Jumat, 21 April 2017

KAMBING ISTANA HILANG Episode 10

KAMBING ISTANA HILANG Episode 10
Keluarga kambing istana, terutama Kambing Jantan merasa menemukan kembali sosok Pak Sobri almarhum pada diri Kakek Gondrong. Banyak kemiripan. Soal wajah memang beda. Pak Sobri bertampang filsuf. O, bukan. Filsuf tidak punya wajah spesifik. Socrates konon punya wajah seperti orang kebanyakan. Wajah pasaran. Pak Sobri bertampang klenik, bukan dukun. Di jari-jari tangannya tidak ada batu cincin sebagaimana dipakai para dukun.

Kakek Gondrong lebih ganteng sedikit. Tampangnya mirip pelukis, atau barangkali penyair yang tersasar di pinggir kali. Mungkin juga dia memang seniman teater, atau sutradara film indie, atau barangkali aktor yang sedang observasi. Entahlah. Tapi yang pasti, Kakek Gondrong sosok yang menyenangkan.

Kambing betina bersama dua anaknya berjalan-jalan di sekitar kebun . Ada kebun jagung, kebun singkong, ketela, cabai, ada beberapa pohon pisang, pohon pepaya yang nampak terawat.

Kambing Jantan menggosok-gosokan tanduknya di sebuah pohon. Kakek Gondrong menghampiri.

“ Hei, Jantan. Selamat pagi. Kau bangga dengan tandukmu, ya? Hahahahaha. Kalau ada yang melihat pasti akan terheran-heran. Bagaimana mungkin seorang petani mengajak berkebun seekor kambing? Hahahahha. Kalau kau mau, kau bisa masuk kebun jagung, kebun singkong, silakan makan sesukamu. Kebun ini milik kita. Ya, aku yang menanamnya. Tapi bukan milik kita. Kebun seluas mata memandang ini milik orang kota.”

“Punya kebun seluas ini harus ada yang menjaga. Kalau tidak, akan ada gubuk liar. Kalau didiamkan, gubuk itu akan berubah menjadi rumah. Saat yang punya tanah menyuruh pindah, mereka minta ganti rugi. Hahahahha.”

“Silakan nikmati pagi yang indah ini. Aku mau memulai hariku dengan bekerja agar awet tua. Hahahaha. “

Kakek Gondrong mengambil cangkul. Menaruh di pundaknya. Berjalan sambil menyanyi kecil. Kambing Betina menghampiri Kambing Jantan.

“Dia bilang apa? “ tanya Kambing Betina
“Aku tidak paham semua. Hanya aku menangkap, dia membebaskan kita memakan daun jagung dan singkong di kebun itu. “

“Kau tidak salah dengar?”

“Tidak. Tentu saja aku tidak akan merusak kebunnya. Makanan di sini berlimpah. Satu hal lagi. Katanya ini kebun milik orang kota. “

“Apa?” tanya Kambing Betina seperti baru mendengar berita buruk

“Kenapa?”

“Ini bukan tempat yang aman. Bagaimana kalau orang kota itu datang mengontrol kebunnya ini? Bagaimana kalau orang kota itu adalah polisi? Atu jangan-jangan …” Kambing Betina tidak melanjutkan ucapannya. Dia berjalan beberapa langkah, memperhatikan Kakek Gondrong yang sedang mencangkul.

Kambing Betina kembali menghampiri Kambing Jantan. “ Bagaimana kalau Kakek Gondrong itu tahu kita kambing istana yang hilang, dia pura-pura tidak tahu. Diam-diam dia mengontak pemilik kebun ini. Entah satu atau dua hari lagi pemilik kebun ini akan datang membawa mobil besar. Membawa kita kembali ke istana.”

“Kita memang harus tetap waspada, tapi jangan berlebihan. Aku bisa membedakan kebaikan orang yang tulus dan yang munafik. Kita ini buronan. Tidak ada tempat yang benar-benar aman. Perjalanan kita sudah sejauh ini. Cukup melelahkan. Jangan ditambah lagi dengan kelelahan akibat kecurigaan yang berlebihan. “

“Aku tidak mau kembali ke istana …” Kambing betina nampak sangat sedih. Sedih seekor kambing. Mungin saja dia menangis, tapi sulit membedakan kambing menangis atau cukup sedih saja.

Kambing Betina berjalan ke tepi sungai diiikuti oleh dua anaknya. Kambing Jantang menghampiri. Mengelus-elus badan Kambing Betina dengan kepalanya.

“Kalau kau terus sedih seperti ini kapan kita akan punya anak lagi? Sebentar lagi musim kawin. “ Kambing Jantan berusaha menghibur Kambing Betina.

“Kita buronan. Merepotkan kalau punya anak lagi.” Kesedihan Kambing Betina belum hilang.

“Percayalah. Di sini tempat yang aman untuk punya anak lagi.”

“Bagaimana kalau pemilik kebun ini datang?”

“Dia tidak akan datang dalam satu atau dua tahun ini.”

“Bagaimana kalau satu atau dua bulan ini dia datang?”

“Pertanyaanmu seperti hewan yang putus asa. Bagaimana kalau tengah malam datang pencuri kambing, dan memotong-motong tubuh kita? Bagaimana kalau Kakek Gondrong tiba-tiba ingin makan daging kambing, dan memotong salah satu kaki kita? Itu pertanyaan hewan yang ketakutan dengan hayalannya sendiri. Kalau mau cari tempat yang paling aman, tempat yang paling aman bagi kita adalah kandang istana.”

“O, itu yang dalam pikiranmu? Kita kembali ke kandang istana? Membentuk keluarga besar sampai punya cucu? Kenapa kau tidak kembali saja sendiri ke istana? Presiden akan mencarikan kambing betina baru yang lebih cantik dariku supaya kau tidak kabur lagi. Silakan kalau itu mauamu. Biar akau dan anak kita pergi sejauh mungkin. “

Kambing Jantan menggeleng-gelengkan kepalanya. Sulit sekali memahami jalan pikiran Kambing Betina. Sulit diterka maunya. Betina dimana-mana sama saja.

BERSAMBUNG
11042017
Read more

KAMBING ISTANA HILANG Episode 9

KAMBING ISTANA HILANG Episode 9
Wapres bertemu tamu beberapa petinggi sebuah partai politik. Tempatnya sangat dirahasiakan. Wartawan yang penciumannya sangat tajam pun tidak bisa mencium pertemuan itu. Inti pertemuan itu, Wapres ditawarkan mencalonkan jadi capres pada pilpres tahun depan.

Bagi Wapres, menjadi capres bukan hal yang baru. Dia sudah pernah sekali jadi capres. Cuma mendapat delapan belas persen suara. Menjadi Wapres sebenarnya bukan cita-citanya. Dia pernah menjadi menteri, menjadi menko. Dia juga tahu menjadi wapres cuma tinggi jabatanya saja tapi kewenangan kerjanya tidak lebih baik dari menteri. Sewaktu menjadi menteri dia pernah mengeluarkan beberapa surat keputusan yang punya nilai strategis. Sekarang? Cuma mondar-mandir meresmikan ini, meresmikan itu. Ada satu kebijakan presiden yang cukup populer yang mendapat respon positif dari berbagai pihak sebenarnya adalah seratus persen buah pikirannya. Tapi yang mendapat pujian tentu saja presiden.

“Dalam posisi seperti Bapak Wapres sekarang ini memang sulit mengangkat citra Bapak.” Salah satu petinggi parpol memberikan saran, “Bapak Wapres bisa memainkan isu kambing hilang menjadi komoditi politik untuk meraih simpati. Rakyat sudah mulai muak. Kita ini negara besar, bukan negara kelas kambing. Persoalan kehilangan kambing yang mestinya cuma sekelas hansip, sekarang naiknya tidak tanggung-tanggung. Kelas presiden! “

Petingggi parpol lain menambahkan, “ Ini antara kita saja,Pak. Saya mendapat bocoran dari sumber yang sangat bisa dipercaya, bapak juga termasuk orang yang dicurigai soal kambing hilang. Penangkapan tokoh ormas XYZ cuma sebagai pintu masuk untuk membidik para tokoh lain. Bapak pernah diisukan dekat dengan para tokoh ormas XYZ.”

Giliran Wapres bicara. “Saya juga merasakan sedang dicurigai. Tapi namanya curiga ya biar sajalah. Kalau sudah menuduh, lain lagi soalnya. Mengenai anak-anak muda dari ormas XYZ. Mereka anak-anak muda yang cerdas. Dalam satu acara diskusi, mereka mengundang menteri. Presiden bertanya pada saya, apakah kita izinkan menteri menghadiri diskusi itu? Saya menawarkan diri. Biar saya saja yang hadir. Menteri bersangkutan sedang ke luar kota. Diskusi itu akan diwakili dirjennya. Untung saya yang hadir. Kalau dirjen, saya yakin tidak akan mampu. Saya saja agak kewalahan. Ketika saya tanyakan pada mereka, kalau misalnya pemerintah membutuhkan kalian, apakah kalian bersedia? Mereka menjawab, tidak. Cita-cita mereka mau jadi presiden. Hahahhaha. Mereka memang beda dengan para relawan yang sekarang sudah anteng duduk di kursi empuk sampai suara mereka melempem. Hahahahaa. “

“Kita kembali ke pokok pembicaraan. Bapak bersedia kami calonkan jadi capres?“

“Insya Allah bersedia.“

Tidak butuh waktu lama. Dalam satu acara, Wapres diminta menyampaikan kata sambutan.

“ Saudara-saudara sekalian. Bangsa ini bangsa yang besar. Semakin besar satu bangsa, semakin banyak persoalan yang kita hadapi. Insya Allah persoalan-persoalan itu akan kita selesaikan satu persatu. Kita buat skala prioritas. Karena kita tidak bisa menyelesaikan berbagai persoalan sekaligus. Satu persoalan tidak berdiri sendiri. Pasti berhubungan dengan persoalan lain. Baik secara langsung mau pun tidak langsung. Kita sudah cukup lelah mengurusi soal kambing hilang. “

Hadirin tertawa. Wapres tambah semangat.

“Lupakan kambing dari kepala saudara-saudara! “

Hadirin bertepuk tangan.

“Jujur saja, saya juga ikutan senewen ngurusin kambing. Kalau ada yang bertanya pada saya, bagaimana menurut bapak soal kambing hilang? Saya akan jawab, beli lagi kambing yang lebih bagus bulunya, lebih mengkilap tanduknya, kambing betina yang lebih subur agar sering melahirkan anak. “

Hadirin tertawa.

“Sampai sekarang saya masih belum mengerti, apa hubungannya kambing hilang dengan makar? Anak-anak muda dari ormas XYZ yang ditangkap dengan tuduhan makar, dituduh mencuri kambing. Yang benar yang mana nih? Makar atau pencuri kambing? Kalau pencuri kambing dituduh makar, berarti pencuri kerbau sebutannya apa? “

Hadirin bertepuk tangan. Tentu saja tidak semua hadirin. Ada beberapa yang cuma mengelus-elus tangan pura-pura tepuk tangan, terutama yang duduk di barisan depan.

“ Jabatan bukan segala-galanya bagi saya. Bisa saja besok saya dipecat. Itu resiko perjuangan. Saya menjadi wapres hanya ingin menjadikan rakyat negeri ini sejahtera. Hanya itu. Jabatan tidak perlu dikejar, tapi jika dipercaya menjabat, jangan lari. Jabatan tidak akan dibawa mati. Tapi amal perbuatan kita akan menjadi bekal perjalanan menuju akhirat kelak.”

Seperti dikomando, hadirin serempak berucap, “ Amiiiiin. “

BERSAMBUNG
11042017
Read more

KAMBING ISTANA HILANG Episode 8

KAMBING ISTANA HILANG Episode 8
Bagi Kepala Polisi, semakin lama kambing istana hilang semakin baik. Kalau perlu hilang selamanya. Menemukan kambing bukan prestasi yang bisa dibanggakan. Walaupun kambing istana. Tetap saja kambing namanya. Peristiwa hilangnya kambing istana bisa jadi pintu masuk mengkriminalisasi pihak oposisi. Bisa lebih banyak lagi yang bisa dicurigai. Salah satunya, kandidat kuat capres dari pihak oposisi.

Capres Oposisi jika kelak terpilih bisa jadi ancaman serius bagi jabatan Kepala Polisi. Berkali-kali Capres Oposisi melancarkan kritikan pedas kepada kinerja Kepala Polisi. Sebenarnya Kepala Polisi sudah gatal tangannya ingin menangkap Capres Oposisi. Dia menemukan bukti, ormas XYZ punya hubungan khusus dengan Capres Oposisi. Tapi menangkap Capres Oposisi sekarang ini terlalu beresiko. Sebenarnya, resikonya jauh lebih besar jika penangkapannya mendekati pilpres. Bagaimana nanti sajalah.

Jika ada beberapa polisi mengamankan kerumunan orang di tanah lapang tempat kambing istana ditemukan, karena warga resah dengan kedatangan tiba-tiba sejumlah wartawan televisi dan media cetak yang tentu saja diikuti oleh kerumunan warga setempat dan warga luar kampung.

Bagi para pemuda setempat kerumunan itu malah menguntungkan. Mereka menjadi juru parkir dadakan. Begitu juga para pedagang dadakan yang membuka lapak dan juga mengasong.

Beritanya tidak ada yang baru. Masih sama dengan berita Koran Lokal. Cuma ada tanah lapang, gubuk reot, dan sejumlah kambing kampung bersama kerbau.

Kambing Istana beristirahat di sebuah gubuk pinggir kali. Gubuk itu jauh dari rumah penduduk. Penghuni gubuk itu seorang kakek berambut gondrong, jenggotnya yang panjang seperti menyatu dengan kumis, berwarna putih mengkilat.

Sewaktu Kakek Gondrong sedang tidur. Bermimpi didatangi Raja, atau orang yang mirip Raja membawa dua ekor kambing dewasa dan dua ekor anak kambing. Dalam mimpinya Raja berpesan agar merawat kambing-kambing itu. Saat terbangun dari mimpinya, dia mendapatkan kambing istana tiduran di salah satu sudut gubuk.

Kakek Gondrong dan keluarga kambing istana sama-sama terkejut. Kambing Jantan mengambil ancang-ancang menyerang. Kakek Gondrong tersenyum. Senyum yang tulus.

“Tenang … Tenang. Kita ditakdirkan berjodoh. Barusan kalian melompat dari mimpiku. Mungkin kalian tidur tanpa bumbu mimpi, kalian tidak paham arti mimpi.“ Saat bicara, Kakek Gondrong memperagakan makna tiap kata dengan gerakan besar. Nampak sekali dia berusaha agar Kambing Jantan memahami ucapannya.

Kambing Jantan mulai agak tenang. Kambing Betina masih khawatir.
“Jangan percaya omongan manisnya, bob.“
“Tenang saja. Aku bisa membedakan senyum munafik dan senyum tulus. “

Dua anak kambing yang tadi berteriak karena kena tendang ibunya akibat rasa kaget, mulai tidak peduli. Keduanya sibuk mencari posisi yang nyaman buat menyusu.

Kakek Gondrong berjongkok. “Kalau aku menghampirimu, kamu sangka aku berniat jahat. Kita bersahabat. Ayo, mendekatlah. Badanku sudah renta begini, tidak mungkinlah bisa menahan tandukmu. Kamu dalam posisi yang kuat, aku lemah. Percayalah. Kemarilah mendekat. Kita bersahabat.“

Kambing Jantan perlahan mendekati Kakek Gondrong. Kambing Betina menyaksikan dengan tegang. Kambing Jantan sudah berada dekat Kakek Gondrong.

“Aku akan mengangkat tanganku. Aku ingin mengelus kepalamu.” Perlahan Kakek Gondrong mengangkat tangan kanannya. Menyentuh tanduk Kambing Jantan. Mengelusnya. Setelah merasa Kambing Jantan sudah agak lebih tenang, dia mengelus kapala Kambing Jantan.

“ Hahaha. Kita bersahabat, kawan. Sebagai tanda persahabatan, aku akan mencium tandukmu. Aku tidak ragu. Aku tidak takut jika kau marah dan tiba-tiba menanduk kepalaku. “

Kakek Gondrong mengecup tanduk Kambing Jantan. “ Hahahaha kita resmi bersahabat. Aku tidak akan memberi nama khusus untukmu. Aku panggil saja kau, Jantan. Dan kau, Betina. Hahahaha kalian nampaknya keluarga bahagia. Lebih tepatnya, keluarga setia. Aku tidak akan bertanya, kenapa kalian sampai ke gubuk ini. Lagi pula bagaimana cara kalian menjawab. Hahahahha”

“Kalian tentu haus. Kebetulan aku punya banyak gula aren. Tunggu. Aku buatkan.“

Kekek Gondrong mengambil gula aren yang digantung dekat dapur. Gubuk itu tidak ada kamar. Kalau disebut dapur karena ada peralatan masak.

Kakek Gondrong menyodorkan ember berisi air gula aren. Kambing Jantan minum, disusul Kambing Betina.

“Kalian memang keluarga setia, saling menghormati. Hei, Betina. Kau beruntung punya suami Jantan yang gagah dan setia. Hahahahha. Aku tidak seberuntung kalian. Setua ini aku belum menikah. Hahaha. Aku mesti belajar banyak dari kalian soal kesetiaan. Hahahahhaa.”

BERSAMBUNG
09042017
Read more

KAMBING ISTANA HILANG Episode 7

KAMBING ISTANA HILANG Episode 7
Seperti dugaan Kambing Jantan, orang asing itu memang calo tanah. Selanjutnya tokoh satu ini sebut saja Calo Tanah. Dia duduk di belakang kemudi dalam mobil yang diparkir di depan Kantor Kelurahan di wilayah tetangga ibu kota.

Dia membaca Koran. Entah berita apa yang dia baca. Lebih tepatnya membolak balik Koran. Matanya terpaku foto kambing istana yang hilang.

Seseorang masuk mobil itu, duduk di sampingnya. “Beres, besok kita ke sini lagi.” Tokoh yang bicara itu adalah Wartawan Koran Lokal. Perpaduan pertemanan yang aneh.

"Lu lihat ini.“ Calo Tanah menyodorkan koran yang memuat foto kambing istana yang hilang. “Gue baru saja ngelihat kambing ini. Gue pegang anaknya, terus gue mau diseruduk sama babenya, kali. “

“Wah, berita bagus ini. Lu ngelihat di mana? “ tanya Wartawan Koran Lokal antusias.

Calo Tanah menjawabnya dengan menjalankan mobilnya ke pinggir lapangan. Dia berlari ke tempat tadi dia bertemu dengan kambing istana.

“Tadi gua ketemu di sini,“ kata Calo Tanah terengah-engah. “Ke mana dia? “

Calo Tanah diikuti oleh Wartawan Koran Lokal memeriksa kambing-kambing yang sedang makan rumput dan yang sedang bersitirahat di tempat teduh.
“Lu salah lihat kali.“ Wartawan Koran Lokal mulai timbul rasa tidak percaya.

“Nggak, mata gua masih normal.” Calo Tanah melihat ke sekeliling. Matanya berhenti di gubuk reot. Dia berlari menuju ke sana diikuti oleh Wartawan Koran Lokal.

Keduanya masuk ke dalam gubuk reot.

“Lihat tuh.“ Calo Tanah menunjuk kotoran kambing di salah satu sudut. “Itu pasti tai kambing istana,” katanya dengan yakin.

“Bisa saja tai kambing lain,kan? “

“Nggak. Kambing istana tainya beda. “

Wartawan Koran Lokal tertawa. “Apa bedanya? “

“Pokoknya beda. Ini berita bagus, Bro. Nama lu bakal terkenal.“

“Lu beneran yakin yang lu lihat itu kambing istana yang hilang? “

“Babe gua dulu juragan kambing. Dari kecil gua bergaul sama kambing. Nggak mungkin gue salah lihat.“

Wartawan Koran Lokal mulai kembali percaya dengan ucapan Calo Tanah. Dia mengeluarkan camera foto dari dalam tasnya. Dai megambil beberapa gambar. Mulai dari tai kambing di salah satu sudut, exterior gubuk reot, sampai tanah lapang dari berbagai sudut.

“Kita tunggu sampai kambing itu masuk gubuk. Kita intip dari sini, “ kata Calo Tanah.

“Kalau dia nggak dateng? “

“Dia pasti dateng.“

“Harus ada batas waktunya, dong. Sampai jam berapa? “

“Lihat saja nanti.“

Sampai jelang maghrib yang ditunggu tidak juga datang. Wartawan Koran Lokal mulai bosan.

“Gua mau pulang. Malam ini gua banyak kerjaan. Terserah kalu lu masih mau nunggu di sini,“ kata Wartawan Koran Lokal.

“Ah, payah lu. Wartawan kan biasanya pantang menyerah. Pikiran lu cuma amplop.“

“Terserah lu mau ngomong apa. Kita kan ke sini urusan tanah bukan ngurusin kambing. Kalau lu nggak mau pulang, keseniin konci mobilnya. Lu tunggu di sini sampe kambing itu dateng. Besok kan kita ke sini lagi.i “

“Ah, payah lu.“

Terpaksa Calo Tanah menyerah. Dia meninggalkan tempat itu. Meninggalkan sisa penasaran yang berserakan di semak-semak.

Besoknya, keduanya datang lagi. Kambing istana yang dicari entah raib ke mana. Wartawan Koran Lokal memuat berita soal penemuan kambing istana, lengkap dengan foto lokasi tempat diketemukannya. Tentu saja beritanya ditambahi bumbu agar lebih menarik. Berita itu dikutip media nasional dan media online.

Di beranda rumahnya, Wapres membaca berita itu. Istri Wapres juga membaca.

“Gara-gara kambing hilang rakyat kita jadi seperti kehilangan akal sehat. Banyak cerita aneh soal penemuan kambing istana.“ Wapres seperti bicara dengan dirinya sendiri.

Istri Wapres geleng-geleng kepala. Dia ikut urun pendapat, “Bapak kan bisa bicara dengan pak presiden. Hentikan saja pencarian kambing itu. Anggap saja hilang permanen “

“Persoalannya tidak sesederhana itu,” kata Wapres lalu menghela nafas panjang.

Persoalan kambing istana hilang memang sudah terlanjur seperti benang kusut. Sudah ada yang ditangkap dengan tuduhan makar. Mencuri kambing lewat gorong-gorong dengan tujuan mengirim pesan bahwa pengamanan istana mudah ditembus.

Para tokoh ormas XYZ yang dituduh merencanakan makar itu menurut polisi berdasarkan dokumen yang disita, sudah merencanakan dengan matang masuk istana lewat gorong-gorong.

Ormas XYZ memang anggotanya bukan anak-anak muda yang cuma bisa teriak-teriak di tengah jalan. Mereka telah membentuk kementrian bayangan. Setiap ada kebijakan baru pemerintah, menteri bayangan mengkritisi sesuai bidangnya. Bukan asal mengkritisi, argumen mereka sangat meyakinkan lengkap dengan data-data akurat. Pemerintah dibuat nampak bodoh di hadapan mereka.

BERSAMBUNG
08042017
Read more

KAMBING ISTANA HILANG Episode 6

KAMBING ISTANA HILANG Episode 6
KAMBING ISTANA HILANG
Episode 6
Wapres diberondong pertanyaan oleh para wartawan selesai menghadiri satu acara. Pertanyaannya tidak berhubungan dengan acara barusan.

“ Bapak tahu di istana ada rapat terbatas? “
“ Ya, tahulah. Masa tidak tahu.”
“ Bapak sengaja tidak diundang ya? “
“ Tanya presiden dong, masa tanya saya. “
“ Kenapa bapak tidak diundang? “
“ Namanya juga rapat terbatas. “
“ Tapi sudah berapa kali bapak tidak ikut rapat terbatas? “
“ Ada yang ikut, ada yang tidak. Tidak masalah. “
“ Setiap ada rapat terbatas kok pas kebetulan bapak sedang tugas di luar kota? “
“ Kebetulan agendanya sama. Ah, kalian ini curiga saja. “
“ Bapak tidak curiga? “
“ Tidaklah. Apa yang harus dicurigai? “
“ Masa sih bapak tidak curiga? “
“ Kalau kalian bertanya begitu terus, lama-lama saya bisa curiga. He he he. Ah, kalian ini mancing-mancing saja …”

Jawaban Wapres terakhir sebenarnya mengajak wartawan bercanda, tapi menjadi judul utama berita media online.
“ Wapres : Lama-lama saya bisa curiga. “
“ Wapres Mencurigai Rapat Terbatas. “
“ Wapres Curiga Tidak Diajak Rapat Terbatas. “

Istana punya jawaban terhadap wacana liar itu. Sore hari nampak Presiden dan Wapres berjalan santai di taman istana, berbincang santai sambil tertawa-tawa. Puluhan camera mengabadikan momen langka itu.

Media yang tidak pro pemerintah menghadirkan ahli raut wajah. Dia menganalisa kerutan wajah Presiden dan Wapres hasil jepretan para wartawan di taman istana. Menurut analisanya, tarikan wajah saat tertawa nampak sekali bukan tawa yang lepas. Tawa yang tidak tulus.

Di tanah lapang tempat kambing dan kerbau makan bareng, siang itu terik matahari membuat para kambing lebih memilih tiduran di tempat teduh. Para kerbau sama sekali tidak terusik. Keluarga kambing istana beristirahat di bawah pohon rindang.

Bukan cuma para kambing yang tidak tahan teriknya matahari. Pengembala kerbau juga. Di bawah pohon rindang para pengembala tidur-tiduran. Salah seorang nampak berbincang dengan orang asing. Orang yang baru pertama kali nampak di tanah lapang itu menunjuk ke arah keluarga kambing istana.

“ Bob, lihat orang itu. Rasanya baru kali ini aku melihat dia. “ Kambing Betina mengarahkan pandangan Kambing Jantan ke arah tempat orang asing yang sedang berbicara dengan salah satu pengembala. “ Sepertinya dia menunjuk ke arah kita. “

“ Kau diam di sani saja. “ Kambing Jantan berjalan ke arah sisi lapangan.
“ Bob, mau kemana? “ Kambing Betina khawatir
Kambing Jantan tetap berjalan menjauh. Lalu kembali lagi ke tempat Kambing Betina.

“ Kau lihat tadi? “ tanya Kambing Jantan pada Kambing Betina. “ Aku berjalan ke sudut lapangan itu, orang itu tetap menunjuk ke arahmu. Artinya, dia bukan menunjuk kita. Mungkin saja dia calo pembeli tanah atau semacam itu. “

“ Aku khawatir kita akan dikembalikan lagi ke istana. “ Kambing Betina nampak sedih.
“ Kita punya kekhawatiran yang sama, tapi …” Ucapan Kambing Jantan terputus

Tiba-tiba Kambing Betina bangkit. “ Anak kita! “ teriaknya

Kambing Jantan menoleh. Dia melihat kedua anaknya seperti adu lari ke arah orang asing itu.

“ Bob, berbuatlah sesuatu! “ Kambing Betina sangat khawatir. Kambing Jantan memperhatikan, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Dua anak kambing berada dekat dengan orang asing . Orang asing itu menghampiri dua anak kambing istana. Menangkap salah seekor. Kambing Betina mengembik keras. Berlari menuju orang asing itu.

“ Beb! “ Kambing Jantan mengejar.

“ Lepaskan anakku! “ Kambing Betina berteriak. Tentu saja orang asing itu tidak mengerti. Dia mengelus anak kambing istana yang terus meronta memanggil ibunya. Kambing Jantan menundukan kepalanya bersiap menyeruduk orang asing itu.

Orang asing itu mundur. Melepaskan anak kambing. Kambing Betina segara menyingkir dari tempat itu diiikuti oleh dua anaknya dan Kambing Jantan. Orang asing yang tadi nampak gugup, tertawa. Seperti baru terlepas dari bahaya.

BERSAMBUNG
07042017
Read more

KAMBING ISTANA HILANG Episode 5

KAMBING ISTANA HILANG Episode 5
KAMBING ISTANA HILANG
Episode 5
Pemandangan rutin di tanah lapang dekat persawahan itu adalah berkumpulnya sejumlah kambing dan kerbau makan bersama di meja hidangan hijau seluas mata memandang. Para kerbau diawasi oleh para pengembala di bawah pohon rindang. Ada pun para kambing sudah terbiasa dengan rutinitasnya tanpa pengawasan. Pagi-pagi datang, jelang maghrib kembali ke kandang masing-masing. Rutinitas itu tidak menimbulkan kecurigaan bahwa salah satu dari kambing-kambing itu adalah kambing istana yang sedang ramai dibicarakan.

Keluraga kecil kambing istana berjalan santai di pinggir pagar kebon singkong. Kedu anaknya tersaruk-saruk menyusu mengikuti langkah induknya. Beda dengan kucing yang menyusu sambil tiduran dan butuh kehatangatan. Kambing sudah terbiasa dengan perilaku menyusu seperti itu.

“ Daun singkong itu memang membangkitkan selera makan, tapi jangan coba-coba kamu melompati pagar,Bob. “ Kambing Betina mengingatkan Kambing Jantan

“ Nggak usah diajarin lah,Beb. Aku paham, jangan sampai kita berbuat satu kesalahan kecil yang akan menimbulkan perhatian, “ kata Kambing Jantan setelah menelan ludah melihat daun singkong yang lezat.

“ Bob, kalau kamu mau, kamu boleh ikut bertarung dengan kambing jantan lain untuk mendapatkan betina yang kamu inginkan di musim kawin nanti. “

“ Aku nggak memikirkan itu,Beb. Aku cuma akan bertarung kalau ada kambing jantan lain yang akan mengawanimu. “ Bob, kambing jantan berhenti. Menatap tajam Beb, kambing betina. “ Atau kamu mulai berpikir akan menerima kambing jantan lain mengawinimu? “

“ Tidak,Bob. Aku mulai berpikir, mungkin karena lama tinggal di istana, tercabut dari habitat, kita ini seperti setengah kambing setengah manusia. Kambing tidak mengenal kesetiaan dengan pasangan. Kebanggaan kambing betina adalah dikawini kambing jantan pemenang duel. Tapi kita punya perasaan yang sama. Manusia menyebutnya cinta, kesetiaan, entah apa lah. Sesuatu yang bahkan manusia sulit mengerti seperti cinta diam-diam presiden dengan putri pak Sobri. “

Keduanya terus berjalan di pinggir pagar kebun singkong. Kambing-kambing lain di sekitarnya mungkin punya cerita hidup yang tidak kalah menariknya. Kerbau juga barang kali sama. Tapi manusia melihat hanya rutinitas biasa saja. Kehidupan datar binatang ternak yang sama sekali tidak menarik. Tentu saja manusia dan hewan dipisahkan oleh bahasa. Tapi kambing istana tahu kisah cinta manusia. Naluri kambing yang diperlakukan berlebihan seperti kambing istana itu barangkali yang membedakan dengan kambing pada umumnya

Di istana ada rapat terbatas dihadiri oleh Presiden, Satgas Tim Pencari Kambing ( TPK ) Kepala polisi, Panglima Tentara, Kepala Intelejen Negara, dan Menteri Peternakan. Wapres sedang ada tugas di luar kota.

Rapat sudah separuh jalan. Setelah mendengar seluruh laporan, Presiden nampak semakin gusar. Giliran dia bicara, tapi nampaknya dia sedang berpikir keras.

“ Ada satu hal …” presiden mengantung ucapannya. Berpikir lagi. “ Tuduhan makar itu apa tidak berlebihan? ” Presiden memandang Kepala Polisi. “ Ya, ya saya mengerti. Bukti permulaan yang cukup. Dalam soal makar, itu bagi saya bukan bahasa hukum, tapi politis. Ini soal kambing hilang. “ Presiden berhenti sejanak. Berpikir. Melanjutkan, “ Dari ormas mana tertuduh makar itu? “

Kepala polisi bicara. “ Maaf, Pak Presiden. Kami selalu bekerja berdasarkan hukum. Kami paham politik, tapi darah daging kami adalah hukum. Para tertuduh dari ormas XYZ. Itu bukan singkatan. itu simbol abjad tiga huruf terakhir. Makanya, mereka bergerak terencana dari A sampai Z. Setelah itu mereka tidak mau kompromi sehuruf pun dengan pemerintah. Mereka sempalan dari ormas-ormas radikal yang selama ini kita kenal. Mereka anak-anak muda yang pintar. Mereka menganggap gerakan para orang tua terlalu lamban,penuh basa-basi …”

Presiden mengangkat tangannya. Kepala polisi menghentikan bicaranya.

“ Anak-anak muda? Sepintar apa mereka sampai berani berencana menggulingkan pemerintah yang sah? Memangnya ini permainan monopoli? “ tanya Presiden, lalu menoleh ke arah Panglima Tentara.

Panglima Tentara membetulkan posisi duduknya. Berdehem, lalu bicara. “ Saya juga berpendapat sama dengan Pak Presiden. Menuduh makar kepada anak muda yang tidak dikenal luas, sepintar apa pun dia, sama saja dengan merendahkan pemerintah. Akan timbul kesan pemerintah lemah. Tentara lemah. Ketakutan dengan anak muda nggak jelas yang dituduh akan menggulingkan pemerintah. Dihubungkan degan urusan kambing pula. Kalau benar mereka akan menggulingkan pemerintah, dengan cara apa? Kalau mereka cuma bicara, cuekin saja, mereka akan malu sendiri. Kalau mereka pakai kekerasan, kita hadapi lebih keras. Biar jelas urusannya. “

Kepala Polisi tahu ke mana arah pembicaraan Panglima. Dia tidak mau dituduh menjadi pahlawan kesiangan bagi negara. Lalu dia menjelaskan panjang lebar sejumlah pasal yang berhubungan dengan makar.

Presiden menyela penjelasan kepala polisi. “ Itu pasal-pasal karet yang mudah ditarik sesuka kita. Ini kedengarannya seperti soal pribadi, tapi saya harus tegaskan, setahun lagi saya akan mencalonkan kembali jadi presiden. Penangkapan anak ingusan dengan tuduhan makar akan menjadi senjata ampuh untuk memberondong saya dalam kampanye nanti. Apalagi ada cerita soal gorong-gorong itu. Memangnya tidak ada istilah lain yang lebih baik? Under ground misalnya? Saya paham, soal terbukti atau tidak itu tergantung kita. Sudahlah, sudah terlanjur. Mau tidak mau kita harus tetap satu suara. Kembali ke soal kambing …”

Menteri Peternakan membetulkan letak duduknya. Sejak tadi dia sudah malas mendengar perdebatan itu. Tapi nampaknya Presiden tidak minta pendapatnya. Presiden melanjutkan ucapannya.

“ Ada hal yang bapak-bapak tidak tahu soal kemungkinan latar belakang penyebab kambing istana hilang. Saya cuma memberitahukan pada kepala intelejen. “ Presiden menoleh ke arah Kepala Intelejen yang otomatis menganggukan kepala dengan takzim.

“ Saya tidak akan ungkapkan di sini kecurigaan itu.Soalnya menyangkut orang yang sangat dekat dengan saya yang kemungkinan besar bekerja sama dengan orang-orang di lingkaran saya. Saya tidak menuduh bapak-bapak. Bapak-bapak saya undang ke sini, sudah merupakan penegasan soal itu. “

Para peserta rapat mulai menganalisa dalam kepalanya. Siapa orang terdekat di lingkaran Presiden yang tidak diajak rapat? Wapres kah? Bukankah wapres sedang bertugas di luar kota? Kebetulan? Atau?

Jawabannya tunggu saja episode berikutnya

BERSAMBUNG
05042017
Read more

KAMBING ISTANA HILANG Episode 4

KAMBING ISTANA HILANG Episode 4
KAMBING ISTANA HILANG
Episode 4
Kesempatan kabur ke luar istana datang begitu saja seperti hadiah cuma-cuma tanpa ikut sayembara. Lewat tengah malam itu hujan menyisakan gerimis tipis. Pintu kandang tidak dikunci. Awalnya kambing jantan iseng berjalan mengelilingi istana. Tidak ada penjaga yang melihat. Atau mungkin saja tidak peduli.

Biasanya kesempatan emas tidak datang dua kali. Bersama kambing betina dan dua anaknya, nekad ke luar istana melalui pintu darurat yang entah kenapa tidak terkunci.

Ternyata lebih mudah ke luar istana ketimbang pelarian selanjutnya. Walaupun jalan raya tidak terlalu ramai, tapi kendaraan lewat dengan kecepatan tinggi. Beberapa kali kedua anaknya nyaris tertabrak kendaraan.

Kambing betina mengembik keras saat truk tiba-tiba menggilas dua anaknya. Tapi ternyata dua anaknya selamat. Kedua anak kambing itu beruntung karena diam terpaku di bawah kolong truk. Kalau panik sedikit saja, tentu akan menjadi kambing giling.

Setelah berita hilangnya kambing istana, banyak laporan masuk ke pihak keamanan. Ada banyak warga yang mengaku melihat kambing berkeliaran di jalan pada malam kejadian. Laporan itu bercampur dengan laporan lain yang mengaku melihat kambing di tempat yang berbeda. Setelah pihak keamanan mendatangi beberapa lokasi seperti yang dilaporkan, ternyata bukan kambing istana.

Dalam situasi seperti itu ada saja orang yang memanfaatkan untuk kepentingan pribadinya. Tersebar kabar kambing istana ditemukan di satu tempat. Banyak wartawan datang ke sana. Sebuah stasiun televisi swasta menyiarkan langsung, mewawancarai orang yang mengaku penemu kambing istana. Nampak kambing yang ditemukan itu memang mirip dengan kambing istana.

Kampung penemu kambing itu dipenuhi oleh wartawan dan warga yang ingin melihat langsung. Setelah pihak keamanan melakukan penelitian, ternyata bukan kambing istana. Tapi kampung sudah terlanjur ramai. Para pemuda memanfaatkan mengutip uang parkir kendaraan. Uang dari hasil wawancara dibagi rata. Buat tokoh yang diwawancarai, dan tokoh masyarakat setempat.

Setelah mengingat pelariannya yang menegangkan, kambing jantan menggosok-gosokan kepalanya ke tubuh kambing betina. Kedua anaknya yang sedang menyusui sedikit terusik.

“ Sampai kapan kita bersembunyi di sini? “ tanya kambing betina setelah memastikan kedua anaknya nyaman menyedot air susunya.

“ Pertanyaan itu terlalu pagi, Beb, “ jawab kambing jantan sambil terus menggosokkan kepalanya.

“ Ini kan sudah malam,Bob, “ jawab kambing betina merajuk
Keduanya tertawa. Tawa kambing tentu saja.

Seminggu setelah peristiwa hilangnya kambing istana, sudah ada beberapa orang yang ditangkap diduga menculik kambing istana. Diduga motifnya bukan kriminal murni, tapi sudah menjurus ke rencana makar.

Dari keterangan pihak keamanan, walaupun barang bukti kambing belum ditemukan, tapi pihak keamanan sudah punya bukti permulaan yang cukup. Diduga mereka masuk istana melalui gorong-gorong. Mendadak jalan raya sekitar istana dipenuhi wartawan. Mereka merekam, memotret, siaran langsung, menunjukan lokasi gorong-gorong yang dimaksud.

Di sejumlah televisi berita talk show, wawancara, temanya seragam. Ahli tata kota yang pro pemerintah mengatakan perlunya keamanan yang lebih ketat pada sejumlah gorong-gorong yang menuju ke obyek vital. Ahli tata kota yang anti pemerintah berpendapat beda. Gorong-gorong di sekitar istana tidak tembus langsung ke istana, terlalu sempit untuk dilalui manusia, apalagi membawa kambing.

Ahli binatang ternak yang anti pemerintah mengatakan, jenis kambing istana tidak mungkin bisa dibawa dengan mudah begitu saja tanpa perlawanan yang menimbulkan kegaduhan. Ahli binatang ternak yang pro pemerintah berpendapat, banyak cara menjinakan berbagai jenis kambing. Lalu dia menjelaskan caranya.

Belum lagi silang pendapat pakar hukum, pakar politik, dan lainnya. Di media sosial jangan ditanya. Mulai dari yang memaki terduga makar, sampai yang mengejek cara pihak kemananan mersepon kambing hilang.

Pasar malam perdebatan itu menutup kasus yang baru saja sedang hangat-hangatnya dibicarakan.

BERSAMBUNG
05042017
Read more
Balya Nur. Diberdayakan oleh Blogger.